Pencapaian Target Laba 2011 Dikhawatirkan Terganggu
Jakarta - Kementerian BUMN didesak segera mengevaluasi kinerja direksi Pertamina. Kalangan serikat pekerja menuding, ada ketidakkompakan antar direksi di BUMN perminyakan ini. Hal itu berpotensi mengganggu pencapaian laba pada akhir 2011.
Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menilai, perombakan direksi termasuk komisaris Pertamina penting untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
“Peningkatan kerja tidak akan optimal bila tidak didukung jajaran direksi lainnya. Bayangkan, ada satu dua orang direksi yang bekerja mati-matian, tapi ada yang bekerja sebaliknya. Alias bekerja untuk kepentingan sendiri,” ungkap Presiden FSPPB Ugan Gandar di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, jika pemerintah tidak mencermati kinerja direksi, dikhawatirkan akan menggangu target kerja Pertamina seperti pencapaian laba bersih atau operasional di lapangan.
“Kami ini kan ‘orang dalam’ dan sudah lama mengetahui apa yang terjadi dalam perusahaan. Tapi kami tidak layak dan pantas untuk membuka aib sendiri. Namun apa yang kami ungkapkan ini sebagai sinyal. Kami takut ketidakkompakan direksi ini akan mengganggu capaian laba Pertamina hingga akhir 2011,” beber Ugan.
Dalam semester I-2011, laba BUMN minyak ini mencapai Rp 69,88 triliun. Laba bersih itu naik 39,91 persen dibandingkan laba periode pada yang sama tahun 2010 sebesar Rp 49,94 triliun.
Pertamina menjadi BUMN yang membukukan laba bersih paling tinggi pada semester satu ini, yakni Rp 14,79 triliun. Keuntungan Pertamina naik 70,39 persen dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 8,68 triliun.
Ketika dikonfirmasi, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Djaelani Sutomo irit bicara. “Kalau soal itu (ketidakkompakan) antara direksi dengan komisaris, saya tidak bisa komentar. Yang lain saja ya,” ujar Djaelani singkat kepada Rakyat Merdeka kemarin, di Jakarta.
Jubir Pertamina Moch Harun juga ogah berkomentar masalah tuntutan pengocokan ulang di jajaran direksi Pertamina tersebut. “Itu di luar kewenangan saya. Tanya saja ke pemegang saham, Kementerian BUMN,” tutur Harun.
Dalam sebuah kesempatan, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan, citra buruk BUMN selama ini selalu terkait dengan kinerja direksi. “Buruknya BUMN akibat tidak kompaknya para direksi. 80 persen direksi BUMN tidak kompak,” jelas Dahlan.
Dia menilai, penyebab direksi BUMN tidak kompak karena ada intervensi dari luar. “Intervensi ini terjadi karena undangan direksi, bukan intervensi sendiri,” ungkapnya. Menurut Dahlan, intervensi tersebut berupa ‘backing’ bagi direksi.
Wakil Ketua Komisi Xl DPR Achsanul Qosasi mengatakan, saat ini sudah bukan eranya lagi BUMN dipimpin generasi tua berlatar belakang birokrat, namun perlu dipimpin direksi muda, profesional dan independen.
“Tepat rencana presiden merombak direksi BUMN. Direksi yang sekarang itu perlu penyegaran.” ujar Achsanul.
Selain menyoroti direksi, pihak serikat pekerja juga mengkritik kinerja Komisaris Pertamina. Ugan meminta agar jajaran komisaris Pertamina tidak terlalu masuk ke ranah teknis.
“Kalau memang ada komisaris yang tidak layak ganti saja, sehingga tidak merecokin. Kasian dong pemimpin-pemimpin atau pelaksana di lapangan. Masak ada komisaris yang bicara-bicara rinci soal teknis,” kritik Ugan.
Achsanul juga meminta perombakan tidak hanya dilakukan di jajaran direksi saja, melainkan komisaris. Ia mengeluhkan masih banyaknya komisaris BUMN yang merangkap jabatan Dirjen atau jabatan eselon lainnya di kementerian. Achsanul meminta komisaris juga dipegang oleh profesional, jangan lagi birokrat.
Untuk diketahui, saat ini jajaran direksi Pertamina adalah Direktur Utama Karen Agustiawan, Direktur SDM Ruki Hadihartini, Direktur Keuangan M Afdal Bahaudin, Direktur Umum dan Aset Waluyo. Sementara Direktur Pengolahan Edy Setianto, Direktur Pemasaran dan Niaga Djaelani Sutomo, Direktur Hulu Bagus Setiarja dan Direktur Perencanaan Investasi Risiko Frederik ST Siahaan.
Sumber : Harian Rakyat Merdeka